Setidaknya saya ingin menyebutkan bahwa di balik segala prestasi pemerintah untuk meningkatkan jumlah pelajar di perguruan tinggi, tersimpan dilema tentang keadaan mahasiswa dewasa ini. Barangkali kita harus sepakat bahwa mahasiswa adalah kaum menengah ke atas – juga kalangan bawah yang terbantukan oleh biaya pendidikan tertentu. Berbagai beasiswa untuk membantu aktualisasi diri dan proses pembelajaran di kampus digelontorkan oleh berbagai kalangan.

Seorang warga kampung yang tidak cukup mapan secara ekonomi barangkali menyadari bahwa kuliah adalah standar hidup yang sungguh tinggi. Mereka membayangkan kesulitan pembiayaan kuliah, kesulitan hidup di tanah rantau yang lebih mahal, harga makanan di warung, dan tentunya sebentuk kekhawatiran itu, yang kerap terjadi di kota-kota besar. Terlepas bagaimana perjuangan seorang mahasiswa nantinya dalam mencari biaya atau beasiswa, suatu saat ia akan dihadapkan pada dilema soal idealismenya sendiri.

Bagaimanakah keterkaitan antara idealisme dan kemapanan ekonomi?

Idealisme seorang pemuda, terlebih mahasiswa, adalah sikap yang barangkali terkesan tergesa-gesa, tapi tetap didasarkan atas dasar intelektual dan analisis atas kegelisahan. Idealisme ini terus digemakan dan diperdebatkan di ranah publik, tentunya demi kemaslahatan bersama, bukan hanya untuk cari muka. Dalam idealisme yang baik diperlukan adanya dialog, baik dengan sesama mahasiswa maupun dengan kalangan masyarakat tertentu.

Mungkin mirip hubungannya dengan bagaimana Karl Marx menyusun teori revolusinya yang begitu mengagumkan, atas dasar ketimpangan ekonomi masyarakat. Ideologi bukanlah sesuatu yang dilahirkan dari dinding-dinding perenungan panjang dalam kelas atau kamar. Karl Marx, agaknya menyadari kegelisahan itu, dan menyusun konsepsi yang begitu idealis.

Mahasiswa kiranya perlu bersikap skeptis, tapi tidak sinis. Seperti dikemukakan Tom Friedman, seorang redaktur New York Times bahwa skeptis adalah mempertanyakan dan meragukan apa yang telah diketahui dan terus mewaspadai kepastian yang ada. Check and re-check.

Demikianlah sebuah idealisme bergulir. Ia perlu kebebasan dalam pikir dan juga keadaan kantong. Barangkali saat ini memelihara idealisme adalah hal yang sungguh rumit. Mahasiswa ditekan oleh tuntutan biaya kuliah yang membuatnya tidak bebas, biaya hidup yang naik, serta orang tua yang kerap menjadi hambatan moriil seorang mahasiswa untuk tidak lulus tepat waktu – atau menjadikannya berjuang di jalan yang diinginkan oleh orang tua. Belum lagi biaya untuk sekedar ngopi-ngopi nggaya, yang juga berasal dari orang tua. Bukankah kebebasan seorang adalah kesempatan memilih kehidupan dalam tanggungjawab?

Dan hari ini dunia yang menentukan arah kehidupan. Jelas pandangan sikap orang tua yang menginginkan hidup tenang dan damai untuk anaknya, dengan jiwa muda yang liar bebas ingin berkembang, ada distingsi di situ. Biaya kuliah, dan tak jarang, ikatan pembiayaan menjadi pertimbangan seseorang sulit mendapati sesuatu di bangku kuliah untuk mengembangkan diri di luar kelas. Zona nyaman yang tidak memberi apapun bak racun yang membunuh perlahan, mencipta kejumudan.

Kampus yang tak bisa dikritik, biaya kuliah dan hidup yang melangit, jadwal dan tugas yang monoton dan formalistis, serta sikap keluarga, masyarakat juga pengajar yang doktrinal, jika tidak terfasilitasi, akan menghambat ide-ide besar mahasiswa. Apalagi ditambah masalah biaya parkir yang kompleksnya masyaallah, ah. Mau bebas berpikir dan idealis bagaimana mahasiswa ini?

Baca artikel asli MahasiswaBicaraID

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here