Cerita ini terinspirasi dari kehidupan saya dan beberapa sahabat baru saya yang membuat saya sadar akan indahnya arti persahabatan dimana kami sering bercanda bersama melepas semua masalah dalam diri kita masing-masing tanpa adanya perselisihan dan kunci yang paling penting dalam menjaga agar persahabatan itu tidak rusak adalah bisa menghargai satu sama lain tanpa sekalipun membuat hati mereka.

Dalam kisah ini ada lima orang bersahabat yang berbeda beda asalnya dan bertemu di sebuah kota yang indah, bersih, nyaman dan dijuluki sebagai kota pelajar yaitu “Yogyakarta”. Kelima orang tersebut adalah ALVIN, ORY PRANATA, JUNI KURNIAWAN, FARID ISKANDAR DAN ADITYA DARUSALAM. Dimana dalam keseharian mereka sering sekali bersama di suatu tempat yang di kenal anak-anak jogja sebagai tempat nongkrong tanggal tua yaitu burjo. Kami tidak canggung untuk mengeluarkan uneg-uneg kami masing-masing di saat berkumpul bersama dan saling sharing pengalaman masing-masing.

Mereka semua memiliki sifat masing-masing yang unik. Alvin, berasal dari cirebon memiliki sifat yang unik, sering membuat suasana sepi menjadi rame, kalau berbicara asal ceplas-ceplos tapi masih d batas kewajaran, Ory pranata, pemuda asal PekanBaru yang sudah lebih dulu tinggal di yogyakarta di banding ke empat temannya memiliki sifat yang cool, kalo ngomong selalu bikin pedas telinga dengan kata-katanya yang kadang menusuk ke hati tetapi kadang kata-katanya membuat kita sadar akan kelakuan kita masing-masing. Farid iskandar, pemuda yang asalnya dari PekanBaru juga yang bisa di bilang paling senior di antara yang lainnya memiliki sifat yang kadang membuat kita geli, sering menjadi inspirasi dan sangat aktif dalam berbagai kesempatan yang dia ikutin. Juni kurniawan, berasal dari salah satu kota kecil d Kalimantan Timur yaitu sangatta, memiliki sifat yang humoris, sering membantu teman dan bisa di bilang paling muda di antara yang lainnya. Aditya darussalam, pemuda asal Tembilahan yang selalu memiliki bahan cerita yang tidak ada habisnya dan kadang membuat bosan mendengar ceritanya, kadang ada ceritanya yang menginspirasi dan banyak ceritanya yg membosankan, hahaha. Meskipun berasal dan memiliki sifat yang berbeda-beda banyak kejadian unik yang mereka alami bersama-sama selama dua semester ini di kampus maupun di luar kampus.

Pada suatu hari tepat tanggal 9 september 2012 mereka berlima menjalani aktifitas untuk pertama kalinya yaitu kuliah perdana Universitas Islam Indonesia. Sebelum berjalan ke kampus hal yang ada di benak merekapun ialah pasti akan bertemu banyak cewe-cewe cantik sesama mahasiswa baru yang membuat mereka semangat untuk datang meskipun harus sudah ada di kampus tepat jam 7 dan melalui suhu yang relatif dingin karena kampus tersebut terletak dekat dengan gunung merapi. Merekapun terpesona akan keindahan yang terdapat di Universitas Islam Indonesia yang memiliki bangunan-bangunan yang megah dan pemandangan yang indah serta tentunya cewe-cewe yang enak di pandang meskipun dalam keadaan ngantuk.

Semua mereka lalui sampe empat hari berturut-turut tetapi mereka belum bertemu satu sama lain. Setelah semua rangkaian acara yang mereka ikutin sebagai syarat yang dilakukan mahasiswa barupun mereka akhirnya untuk pertama kalinya bertemu di kelas yang sama pada jurusan Ilmu komunikasi UII. Pada awal-awal masuk kelas pasti ada yang namanya perkenalan di depan kelas. Paling pertama dimulai dari Farid Iskandar. Banyak yang terkejut karena mereka pikir dia dari angkatan atas tetapi sekalinya juga sama-sama maba. Farid menjadi sosok yang paling di hormati di kelas. Kemudian maju untuk memperkenalkan diri di depan kelas adalah Juni kurniawan. Tampak terlihat dia masih kurang pede untuk berbicara di depan kelas dan banyak yang tidak tau dia berasal dari mana karena sebelumnya belum pernah dengar tempat asalnya itu berada. Kemudian dilanjutkan oleh Alvin. Dia sangat pede dan tidak kelihatan canggung pada saat memperkenalkan diri bahkan banyak yang ketawa akan logat yang iya gunakan. Kemudian dilanjutkan Ory pranata. Pertama yang ada di benak teman-temannya bahwa ory ini memiliki sifat yang cukup angkuh karena terlihat dari wajahnya tetapi seketika semua berubah ketika dia mulai memperkenalkan diri. Lanjut yang paling terakhir adalah Aditya darussalam. Tampak seperti biasa-biasa saja saat ia memperkenalkan diri.

Hari demi hari mereka lalui dan hubungan mereka berlima pun semakin akrab ketika diadakannya turnamen futsal antar angkatan. Ketika pertama kali berkumpul merekapun saling berbagi pengalaman dan bercanda gurau bersama layaknya sudah kenal lama, padahal baru-baru saja berkumpul bersama. Tiba saatnya tim mereka bermain, dari mereka bertiga pun hanya tiga orang yang mengikuti turnamen. Yaitu Juni, Ory, Adit. Dalam pertandingan itu Alvin dan Farid pun menyemangati teman-temannya yang bertanding futsal.

Baca :  Kecelakaan Tunggal Tewaskan Satu Orang Mahasiswi

Tampak terlihat ada satu insiden dimana Ory berselisih dengan pemain lawan, terlihat Ory pun adu mulut dengan musuhnya. Juni yang melihat insiden tersebut pertama hanya diam saja karena sudah hal biasa dalam pertandingan itu terjadi, tetapi sontak dia menjadi emosi ketika melihat temannya itu akan di pukul. Tanpa basa basi Juni pun langsung mendatangi temannya dan ikut melawan musuhnya yang juga seniornya itu. Keadaan pun semakin rusuh di Gor tempat berlangsungnya turnamen itu. Juni pun berkata “Kami memang masih junior di antara kalian semua tetapi hargai kami karena kami kesini bukan untuk cari ribut” berkata kepada seniornya itu. Kemudian senior itu pun terdiam dan memilih untuk keluar. Begitupun dengan Juni dia keluar dengan perasaan emosi berat karena kejadian itu. Semua yang berbicara pada diapun di acuhkannya kecuali Farid. Farid yang menonton dari atas pun berusaha menenangkan juni “Sudah jun nanti kita cari di luar itu orang (ngomong sambill tertawa)” jun pun ikut tertawa mendengar kata-kata Farid dan menjawabnya dengan “Bukannya apa bang kalo kita cari di luar hancur juga kita dibikin sama senior itu” Faridpun tertawa mendengarnya dan membalas “Ah, jangan macam tak ada kawan tenang aja (sambil tertawa)” sontak suasana yang panas itupun seketika hilang ketika mereka bercanda gurau.

Setelah kejadian itupun mereka mulai mengetahui sifat satu sama lain dan mulai mempelajari untuk mengimbanginya dengan sifat masing-masing agar tidak terjadi kesalah pahaman. Ke esokan harinya merekapun memulai aktifitas perkuliahan. Tampak terlihat mereka datang masih sendiri-sendiri. Banyak kejadian mereka alami sehingga mereka berlima pun menjadi sebuah perkumpulan baru di kampus yang selalu bersama saat kuliah maupun tidak. Farid sangat aktif di kampus sedangkan yang lainnya tidak maka alvin, juni, ory, adit pun sering berkumpul tanpa farid. Di burjo merekapun merasa farid agak jauh sekarang sudah jarang lagi berkumpul “Ah bang farid ini sibuk betul sombong dia sekarang” kata adit. “iya cukup tau saja lah” juni menjawab. Sontak ory pun berkata “ah memang bang farid Main tunggal dia sekarang”. Dari situlah mulai kata-kata MAIN TUNGGAL digunakan untuk menyindir satu sama lain. Tidak lama kemudian Farid pun datang “Assalamualaikum” yang lain pun menjawab kecuali ory “Walaikumsallam bang farid”. Lalu ory pun melanjutkan “Ah, main tunggal ya sekarang” Farid pun heran apa maksud dari perkataan itu lalu Juni dan aditpun jg ikut-ikutan berbicara “ah macam kau tak tau aja wak sudahlah cukup tau saja (Sambil tertawa)” farid pun semakin bingung di buatnya. Lalu alvin pun menjelaskan “Wah, main tunggal ya sekarang bang kami gak di ajak-ajak lagi” Faridpun tertawa “hahaha bukan begitu kawan” setelah kejadian itupun tampak mereka sering mengucapkan kata-kata main tunggal ketika terlihat sibuk sendiri ataupun jalan entah kemana tanpa ada kabar satupun.

Hari demi hari mereka lalui tanpa terasa hampir dua semester berlalu. Di suatu ketika Juni yang kebetulan satu kost sama bang farid curhat kepadanya “Bang ini siapa yang ada d kontak BB abang, cantik kali kulihat” faridpun melihat dan menjawab “Kenapa? Kau suka kalo iya ambil lah” juni pun tertawa dan berkata “Ah tidak bang bercanda saja ada cowonya juga itu” faridpun tertawa dan dia heran kepada juni karena sudah putus asa duluan tanpa mencoba “ah, kau nih apa gaya… belum saja di coba sudah ngomong begitu” tak lama kemudian datanglah Alvin “Assalammuaikum bang … cieee main tunggal ya sekarang cukup tau saja” Juni dan farid pun heran dengan alvin “Main tunggal apa ini kami berdua berarti main ganda kn” kata bang farid alvin pun menjawab “hahahaha bercanda bang woles lah” tak lama datang pun Ory dan Aditya “Oh… begitu sekarang ya main tunggal” Farid dan juni pun semakin heran kok semua datang-datang bilang main tunggal padahal sebelumnya berdua dengan juni. “Sakit kalian ya” kata Farid sambil tertawa “iya, apa gaya kalian ini datang-datang gak jelas” kata juni. Merekapun semua tertawa dan mereka berkumpul bersama lagi setelah jarang ngumpul karena disibukkan oleh tugas dan urusan masing-masing.

Baca :  Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Keesokan harinya kebetulan di kampus sedang di adakan acara seminar oleh salah satu stasiun tv nasional. Di acara itu tampak mereka berkumpul terlebih dahulu di burjo biasa sambil ngopi di pagi hari layaknya orang tua. Setelah itu merekapun lantas menuju ke gedung tempat diadakannya acara tersebut. Dalam acara itu banyak sekali acara yang dilakukan salah satunya adalah pelatihan penyajian berita langsung dari studio maupu dari tempat kejadian. Pada saat istirahat siang mereka makan bersama di luar gedung. Bercanda bersama sambil makan. Ketika acara kembali dimulai Juni, Ory, Adit, Alvin pun terkejut ketika bang farid ikut dalam sebuah kelompok untuk mengikuti pelatihan. “aduh, begitu memang main tunggal lagi” kata Alvin sontak mereka semua pun sepakat untuk mengeluarkan kata-kata main tunggal.

Ketika seluruh kegiatan acara selesai merekapun lantas menuju burjo dimana biasa mereka kumpul. Farid pun datang “Assalamualaikum” sontak alvin pun menjawab “walaikumsalam, begitu memang” lalu yang lainpun juga ikut-ikutan faridpun tampak tersenyum dan mengetahui kenapa temannya bisa begitu “bukan begitu kawan aku di ajakin mau nolak gak enak aku nanti di bilang sombong” kata farid lalu adit pun menjawab “Loh kenapa bang? gak ada kami bahas-bahas abang ini” mereka semua pun tertawa “ah jangan begitulah kawan (sambil colek adit)” “ih geli bang nanti aja di kos kalau mau” merekapun semua kembali tertawa dan kata-kata main tunggal selalu di sebutkan ketika bang farid salah-salah berbicara.

Selang beberapa hari kembali mereka mengikuti kegiatan kampus yang di wajibkan bagi mahasiswa baru yaitu LKID (latihan kepemimpinan islam dasar). Cerita yang sekarang ini ada hubungannya dengan percintaan setelah beberapa cerita yang tadi belum ada kisah-kisah percintaan yang tertera. Acara ini di adakan dalam dua hari. Di hari pertama ketika acara selesai dan mereka menuju parkiran kampus tampak terlihat cewe yang selama ini menjadi pujaan bang farid di bawa oleh lelaki lain. “Wah bang ada yang cari mati kayaknya ini bang” kata alvin, lalu bang faridpun menoleh karena belum tau apa maksud dari kata alvin. Sontak terlihat muka bang farid pun merah karena malu sama teman yang lain karena alvin berkata cukup keras. Juni dan ory pun ikut-ikutan “wah bang ayo sudah kita cegat di depan” kata ory. Lalu juni pun berjalan menuju cewe dan cowo yang di maksud itu seakan-akan dia akan mendatanginya lalu berkata “Bang tahan aku jangan sampai aku kesana ku selesaikan semua itu (sambil tertawa cukup keras) bang farid pun semakin malu dengan kelakuan teman-temannya lalu berkata “sudahlah kawan, jangan begitu gak enak aku” cewe dan cowo itupun pergi dan yang membuat Farid lebih malu lagi adalah ketika alvin memanggil cewe itu pada saat antri untuk keluar dari parkiran karena kebtulan alvin kenal dengan cewe itu.

Mereka pun kembali berkumpul di burjo lagi tampak terlihat bang farid tidak bisa berkata apa-apa saat temannya menyinggung dia “Bang, kalau aku ya kayak gitu GALAU sudah aku” kata juni sambil tertawa. “kalo aku langsung kudatangi ku pukul kalau” ory melanjutkan. Farid pun tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa bilang “PANTEK” Sambil tertawa banyak hal yang mereka lakukan bersama dan masih berlangsung sampai sekarang ini.

Cerita ini berasalkan kehidupan nyata dan tidak ada rekayasa sedikitpun karena menurut saya sahabat adalah segalanya tanpa sahabat kita tidak akan bisa apa-apa. Apa lagi di tempat yang jauh dari kehipun kita sebelumnya dan jauh dari orang tua. Hanya sahabat lah yang bisa bua kita bahagia maka janganlah kita menyia-nyiakannya dan jangan pula kita membuat mereka tersinggung.