Berbicara tentang kemanusiaan tak lepas dari konsepsi dasar dari Hak Asasi Manusia (HAM) begitupun bagaimana praktik pelaksanaannya di lapangan baik di tingkatan komunitas kecil sampai besar dari dunia kerja, pendidikan dan yang lainnya. salah satu sikap yang mudah sebagai praktik pelaksanaan HAM kita harus meyakini bahwa manusia atau orang lain harus kita jaga pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri tanpa membatasi bahkan merugikan pihak lain.

Menurut pasal 28D ayat (1) bahwa, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlidungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum” secara umum pasal tersebut harus diterapkan di berbagai tempat khususnya dunia pendidikan sebagai pencetak generasi bangsa, namun pada praktiknya masih ada kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan seperti pelecehan seksual, kekerasan fisik, bullyng, dan masih banyak lagi.

Seperti yang terjadi di salah satu Universitas di Tangerang Selatan yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akhir-akhir ini, terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Mahasiswa angkatan 2015 kepada mahasiswa baru 2017 pada awal penerimaan mahasiswa baru 2017 atau masa-masa PBAK. Kasus ini kabarnya sudah sampai ke pihak rektorat dan akan dilakukan mediasi dengan pihak rektorat sebagi penengahnya.

Kasus pelecehan ini memang sedang hangat dibicarakan di pelbagai media sosial maupun dari mulut ke mulut. Hal yang menarik dari kasus ini karena pelaku terduga adalah panitia PBAK di salah satu Fakultas di UIN Syarif Hidayatullah. Bahkan yang menjadi sorotan tentang kasus ini, lagi-lagi masalah eksistensi persaingan antar organisasi ekstra kampus yang memanfaatkan kasus ini dengan dalih menjadikan organisasi yang dimiliki oleh pelaku sebagai kegagalannya menjadi kader di organisasi tersebut.

Baca Juga  Jurusan Ilmu Ekonomi Laksanakan KBM di Desa Gema Kampar

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, niatan baik untuk menyelesaikan perkara ini ternyata dimanfaatkan oleh oknum-oknum organisasi lain untuk saling menjatuhkan antar organisasi. Jauh dari harapan pelapor seyogyanya kasus ini tetap diselesaikan dengan baik-baik dan didukung oleh berbagai pihak tanpa menambah kasus-kasus lain yang menjadikan perpecahan antar mahasiswa.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, mahasiswa-mahasiswa UIN malah memfokuskan permasalahan ini kepada organisasi-organisasi yang dimaksud diatas, padahal satu titik fokus yang perlu ditangkap oleh warga kampus UIN adalah tentang pelecehannya, individu antar individu, ini juga menjadi stigma yang sangat memprihatinkan dan mengenaskan ketika warga kampus seolah-olah sudah tidak punya nurani dan kepedulian terhadap korban sampai-sampai menyeret kasus ini kepada masalah yang sangat receh.

Organisasi yang merasa dirugikan dengan kejadian ini sebaiknya memberi pengertian kepada para anggota nya agar tetap tenang dan tidak terbawa emosi dan sebaliknya, organisasi yang merasa tidak ada permasalahan dengan kasus ini sebaiknya membantu agar citra kampus Islam di UIN itu kembali bagus.

Tidak sampai disitu, pejabat-pejabat kampus yang seharusnya menjadi jembatan penyelasaian kasus ini diduga malah mempermainkan kasus ini dan menganggap permasalahan sepele karena permasalahan organisasi tersebut. Sungguh itu bukan hal yang diinginkan oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan, harapan korban tentu permasalahan ini dapat selesai dengan jalan yang aman, damai dan lancar.

Satu hal yang perlu kita tanamkan kepada diri kita dan teman-teman mahasiswa, ketika permasalahan kemanusiaan (pelecehan seksual) seperti ini dianggap hanya kisruh politik kampus belaka maka apakah diri kita masih menganggap diri kita sebagai manusia!?

Baca artikel asli MahasiswaBicaraID