Menjadi sebuah UKM yang berbeda kadang membuat Koperasi Mahasiswa merasakan pahitnya salah pandang masyarakat. Kemarin, ketika sebuah situs lembaga pers mahasiswa mengabarkan dilarangnya berjualan seorang pedagang, khalayak riuh. Entah apa penyebabnya, karena berita tersebut, Kopma dikait-kaitkan dengan larangan berjualannya pedagang itu.

Bertahun-tahun hidup di kampus, jelas saya tahu rekam jejak pedagang pecel itu. Dan larangan berjualan yang dijatuhkan padanya adalah satu hal aneh juga keliru, yang lagi-lagi dikeluarkan oleh pihak kampus. Persoalannya, yang membuat larangan kampus, yang melaksanakan kampus, lah kok malah Kopma yang dibawa-bawa?

Mendengarkan cerita seorang kawan, saya baru tahu kemudian kalau Koperasi Mahasiswa kerap dipandang sebagai lembaga yang tak transparan. Sebagai sebuah institusi bisnis, Kopma dianggap tidak melaporkan keuangannya pada pihak kampus atau mahasiswa. Padahal ya memang Kopma tidak memiliki kewajiban untuk itu. Lah memangnya kampus ataupun mahasiswa itu siapa? Anggota Kopma?

Ini salah paham tentang koperasi yang kerap terjadi pada orang awam. Sebagai orang yang sudah bergelut di dunia koperasi sejak usia 15, saya jelas paham kalau Koperasi itu hanya punya kewajiban untuk melaporkan keuangannya pada anggota. Dalam hal ini, pada Rapat Akhir Tahun koperasi atau ketika pengawas koperasi meminta laporan pada pengurusnya. Sebatas itu kewajibannya.

Kalau kemudian yang dipersoalkan adalah uang kemahasiswaan, saya rasa dalam setiap kegiatan dan program yang diajukan, Kopma turut memberikan laporan pertanggungjawaban pada kampus. Tapi kalau keuangan koperasi sebagai unit usaha, beda lagi ceritanya. Jadi anggapan soal Kopma yang tidak transparan, agaknya cuma orang awam dan tidak paham aturan yang beranggapan begitu.

Baca :  BEM UR Gelar Aksi Usut Tuntas Masalah Korupsi e-KTP

Lalu soal masalah utamanya, terkait kebijakan larangan tadi. Kopma sebagai sebuah lembaga jelas tak punya kuasa untuk membuat larangan itu. Lah jangankan bikin aturan buat melarang orang lain berdagang, punya kekuatan buat ajak mahasiswa ikut koperasi aja tidak. Kalau punya kekuasaan sebesar itu mah mending dipakai buat ajak banyak mahasiswa gabung ke Kopma aja dah.

Lagipula, untuk persoalan ini, yang meributkan si pedagang itu kan kampus sebagai institusi. Jika memang sebelumnya pihak kampus mengajak pedagang ini berjualan di Cafe Cangkir tapi sakit hati karena ditolak, ya bukan urusannya Kopma. Apalagi kalau disangkut-pautkan dengan biaya sewa ruang di lapak Kopma, itu beda urusan bos.

Saya sudah lama tidak pernah ke kampus, sudah tidak jadi anggota Kopma. Tapi dalam ingatan yang saya punya, para pedagang yang berjualan di Kopma tetap lama berjualan walau memakai sistem sewa yang dianggap memberatkan itu. Memang saya sudah tidak tahu sistem sewa di Kopma seperti apa, tapi saya kira jika para pedagang di sana tetap bertahan, artinya mereka tidak memiliki masalah yang terlalu banyak dengan hal itu.

Terkait gerakan #SaveBude yang berjalan, ya terserah mahasiswa zaman now lah. Saya nggak bisa bilang kalau aksi hestek-hestekkan di media sosial tidak berarti. Tapi ya kalau emang mau serius jalanin advokasi, turun lah ke jalan. Samperin itu rektorat dan bilang kalau alasan pelarangan berjualan itu tidak masuk akal. Organisir massa dan tunjukkan pada pihak kampus kalau kalian membutuhkan keberadaan pedagang seperti Bu Rahayu.

Baca :  Tradisi Senioritas dan Hilangnya Eksistensi Mahasiswa

Lagian hari gini masih aja ada alasan “pedagang ilegal” dan “Semisal makanan telah kadaluarsa dan mahasiswa keracunan, siapa pula yang akan bertanggung jawab?” yang keluar dari pihak kampus. Hadeeeh, bos. Kalau emang itu pedagang bikin orang keracunan, ya kagak bakal ada pelanggannya yang bikin save-savean macem tadi. Dikata makan di Kafe Cangkir bebas risiko keracunan kali. Lagian bertahun-tahun jualan, pedagang itu justru membantu hidup mahasiswa miskin macam saya (dulu).

Kalau memang pihak kampus mau mengintegrasikan sistem dagang di kampus, mbok ya jangan pilih-pilih. Ada ratusan mahasiswa yang setiap harinya berjualan di kampus. Tolong itu disuruh gabung ke Kafe Cangkir ya. Dan dosen-dosen yang jualan program buat acara ini itu juga tolong disuruh dagang di Kafe Cangkir ya. Mbok ya kalau bikin kebijakan jangan yang bodoh-bodoh amat lah. Hadeeeeh.

MahasiswaBicaraID

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here