terasunri.web.id – Sebanyak tiga orang mahasiswa Universitas Riau (UR) sebagai delegasi UR Cendekia yang berangkat ke Universitas Syiah Kuala Aceh, Banda Aceh kemarin, (12/10) dalam kegiatan Youth Summit 2017. Ketiga mahasiswa tersebut, yakni Dea Fitriana (DPO URC), M Sofyan Hadi (Presiden Direktur URC), dan Nadya Hari Pratiwi (Sekretaris Direktur PR Department) yang ketiganya merupakan mahasiswa Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UR. Sebelumnya, tiga mahasiswa ini telah dinyatakan lulus seleksi abstrak dan poster ilmiah dan berhak menjadi Grand Finalist Youth Summit 2017.

Youth Summit merupakan salah satu kegiatan Unsyiah Research Festival 2017 yang dilaksanakan oleh lembaga keilmuan Unsyiah Kuala yaitu ILP2MI dan bekerjasama dengan MITI Klaster Mahasiswa Sumbagut. Sebelumnya, kegiatan ini bernama Temu Wilayah MITI KM Sumbagut pada 1 tahun yang lalu dilaksanakan di UR Cendekia, Universitas Riau. Adanya inovasi baru dan ingin memaksimalkan dalam melahirkan para cendekiawan dan ilmuwan muda, sehingga pada tahun ini nama kegiatan tersebut diubah dengan menampilkan basis penelitian. Kegiatan ini berlangsung sejak 13-15 Oktober 2017 dengan diiringi kegiatan yang lainnya antara lain Seminar nasional, Lomba LKTIN, Poster Expo, FGD, dan Field Trip.

Adapun tema yang di angkat dalam kegiatan ini adalah “Inovasi Pemuda Lokal dalam Mencapai Indonesia Sustainable Development Goals 2030”. Tujuan dari kegiatan Youth Summit ini untuk melahirkan generasi muda yang mempunyai kemampuan berpikir kritis, inovatif dan juga kreatif. Dimana generasi muda merupakan harapan bangsa dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Sehingga, dalam kesempatan ini delegasi UR Cendekia mencoba mengangkat judul abstrak “Restorasi Lahan Gambut Berbasis Kearifan Lokal Budaya Melayu”. “Kami menilai bahwasannya puncak dari suatu permasalahan ini adalah karakter manusianya yang sudah rusak. Sehingga, setiap tahun selalu ada kasus pembakaran lahan yang merusak lahan gambut khususnya di Riau,” ujar Dea.

“Oleh karena itu, kami mencoba membuat gagasan dalam menyelesaikan permasalahan ini langkah awalnya adalah dengan kembali menanamkan nilai edukasi berbasis budaya Melayu kepada masyarakat,” tambahnya. Seperti pepatah melayu “Tanda orang memegang adat, alam di jaga petuah diingat” dan “Tanda ingat hari tua laut dijaga bumi dipelihara”. Fungsi dari menanamkan nilai edukasi berbasis budaya melayu ini tidak hanya dijadikan sebagai unsure modal sosial yang diperlukan bagi keberlangsungan restorasi lahan gambut yang lebih baik, namun juga dapat membantu Indoensia dalam melestarikan budaya.

Sebagai penutup, Dea mengungkapkan azzam terkuatnya dalam mengikuti kegiatan ini adalah diniatkan sebagai bentuk syukur dan sarana mendekatkan diri kepada Allah atas pemberian nikmat pikiran yang berusaha dimaksimalkan, “Sebagai sarana untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri sendiri, dan sebagai jalan untuk bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Karena dari awal di program studi pendidikan fisika kami dididik untuk melakukan sesuatu yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri namun juga bermanfaat untuk orang lain, tutupnya.

Artikel asli Teras UNRI

Baca :  Hantu PKI Dini Hari